Layanan :
Kaya Kerja Otot, Miskin Kerja Otak: Kisah Hidup dan Warisan Pengetahuan Prof Dr Ir Go Ban Hong, Ilmuwan Tanah Indonesia. PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Sunday, 30 March 2014 22:33

alt

  Kaya Kerja Otot, Miskin Kerja Otak

Kisah Hidup dan Warisan Pengetahuan
Prof. Dr. Ir. GO BAN HONG
Ilmuwan Tanah Indonesia

Penulis: Zulfikar Fuad

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Prof. Dr. Ir. Go Ban Hong (88 tahun) mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk kemajuan pertanian Indonesia, khususnya di bidang penelitian pertanian dan pendidikan pertanian. Di kalangan peneliti, dosen dan mahasiswa ilmu tanah, Go Ban Hong dikenal sebagai penggagas konsep fenomena kelelahan tanah.

Buku ini mengungkap kisah hidup dan warisan pengetahuan Go Ban Hong sebagai ilmuwan tanah Indonesia. Diawali dari persentuhan pertama pada ilmu pengetahuan di usia kanak-kanak, kemudian perjalanan merantau ke Solo, Jakarta dan Bogor untuk melanjutkan studi, memuaskan kecintaannya pada ilmu pengetahuan. Selanjutnya perjalanan karir sebagai peneliti di dalam dan luar negeri, pimpinan lembaga penelitian tanah dan lembaga penelitian pertanian, staf ahli Kementerian Pertanian RI, Guru Besar Institut Pertanian Bogor dan Universitas Sintuwu Maroso, Poso.

Go Ban Hong memulai cerita hidupnya dengan prolog mengisahkan peristiwa yang terjadi setahun menjelang kelulusan sebagai sarjana Fakultas Pertanian Universitas Indonesia, tepatnya pada 27 April 1952. Saat itu, ia berkesempatan menyaksikan langsung Presiden Sukarno menyampaikan pidato bersejarah berjudul “Soal Hidup atau Mati” dalam peletakan batu pertama pembangunan Kampus Fakultas Pertanian Universitas Indonesia di Bogor, yang di kemudian hari menjadi Institut Pertanian Bogor.

Bung Karno menyoal pentingnya pembangunan pertanian Indonesia, khususnya pembangunan pertanian pangan, yang amat menentukan hidup atau matinya bangsa Indonesia. Bung Karno meluapkan keprihatinannya tentang pembangunan pertanian Indonesia dan rendahnya minat pemuda-pemudi Indonesia pada pendidikan tinggi pertanian. Oleh sebab itu, ia kemudian mendesak pemuda-pemudi Indonesia agar mendalami ilmu pertanian di IPB demi nasib bangsa Indonesia.

Bagi Go Ban Hong, hari itu adalah momentum yang membentuk jalan hidup, yang menjadi sebab ia menentukan pilihan mengabdi pada ilmu tanah. Seruan Bung Karno yang menegaskan pentingnya pertanian tanah kering atau peladangan memantapkan hatinya untuk mendalami ilmu tanah dan menekuni profesi sebagai peneliti tanah.

Sebagai ilmuwan, Go Ban Hong kerap kritis pada kebijakan pemerintah Orde Baru. Antara lain soal swasembada beras yang dinilai memiskinkan petani dan proyek lahan gambut yang dianggap bertolak belakang dengan ilmu pengetahuan. Sikap kritis itu adalah tanda cintanya pada Tanah Air Indonesia. Akibat kebiasaan mengoreksi kebijakan pemerintah, ia sempat dicopot dari jabatan sebagai Direktur Lembaga Pusat Penelitian Pertanian dan diasingkan ke luar negeri.

Di usia senja, Go Ban Hong meratapi keadaan negeri Indonesia yang ia cintai belum mandiri dalam bidang pangan.

Kisah hidup dan warisan pengetahuan Profesor Go Ban Hong menjadi relevan dan penting diangkat ke hadapan para pemimpin dan masyarakat luas, mengingat pembangunan pertanian Indonesia sejauh ini belum menunjukkan kemajuan yang berarti, sebaliknya bahan pangan negeri kita masih bergantung pada impor. Keadaan yang sudah diprediksi dan dikhawatirkan oleh Presiden RI pertama Dr. Ir. Sukarno.

Last Updated on Wednesday, 20 May 2015 17:49
 
Artikel Random

Informasi & Konsultasi

Click here to send message!

Send Message






Events Calendar

June 2017
S M T W T F S
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 1