Layanan :

Cover Buku

bukubukubukubukubukubukubukubukubukubukubukubukubukubukubuku
Hidupku Tinggal 24 Jam? PDF Print E-mail

Oleh: Zulfikar Fuad

FB: Sang Biograf. Pada 24 Oktober 2011 lalu saya mengajukan pertanyaan kepada teman-teman yang sedang gentayangan di “koran fesbuk”: “Apa yg akan Anda lakukan, bagaimana Anda menghabiskan waktu, seandainya mengetahui bahwa Anda hanya memiliki sisa hidup selama 24 jam?” Inilah  jawaban teman-teman….(tanpa saya edit)

OcKy ReSky MawaRni: meLakuKan sEsuatu yG memBuat oranG Lain bahaGia munGkin,,..

Kusyoto Kyt: Semua yang bernyawa dinunia fana ini akan mengalami yg namanya kematian…Mahluk tuhan yg bernama manusia cuma bisa berencana dan menduga tapi hanya gusti Allah aza wa zalah sang pemilik hidup..Jadi jika usia kita ditentukan oleh sesama mahluk tak usah risau..apa lagi berputus asa..karena setiap insan sudah ditentukan oleh gusti allah akan hidup, mati, rezeki dan jodohnya ketika usia sang jabang bayi berusia empat bulan dalam rahim dimana ruh mulai ditiupkan pada sang jabang.

Miranda Seftiana: Selama ini saya seakan terlalu sibuk dengan segala urusan yang sebenarnya mampu saya hindari, namun karna alasan untuk menyembuhkan luka dengan cara menyibukan diri, akhirnya saya memilih jalan seperti ini. Setiap hari saya berkutat dengan lembaran kertas yang berisi hal-hal yang harus saya selesaikan. Dua puluh empat jam kini serasa kurang bagi saya, di rumah, sampai tengah malam saya masih sibuk, hingga seakan mengabaikan keluarga. Andai saya hanya memiliki waktu 24 jam saja lagi untuk mengecap dunia, maka hal yang saya lakukan selain mendekatkan diri pada-Nya, juga memberikan waktu kebersamaan bagi keluarga yang selama ini telah seakan tak saya prioritaskan adanya. Saya ingin memberikan kenangan terindah bagi orang lain di sisa hidup saya, dan menjadi seseorang yang berarti.

Ria Rahmatika: Berusaha semaksimal mungkin untuk membuat orang yang aku sayang bahagia, berusaha beribadah sebaik mungkin, agar aku dapat dikenang di hatinya.

Fandy Hutari: Dari dulu saya bercita2 keliling Indonesia tapi belakangan saya berpikir keliling Jawa pakai motor dan menulis diary dari apa yang saya perhatikan dan alami di kota2 yg saya singgahi. mungkin dalam waktu sempit itu, saya berusaha menulis segala cerita saya di perjalanan dan kota yang sempat saya singgahi saja. sebagai seorang penulis,saya ingin ‘hidup abadi’ dengan apa yang saya hasilkan dari tulisan. Dan akan sangat dramatis jika saya mati di antara kota yang saya singgahi..

Faridatul Millah: Aku ingin membuktikan pada dunia bhwa aku pernah ada di dunia ini, pernah membwa nilai positif… Salah1nya adalah dgn menulis… mungkin saja, walaupun hanya sebatas tersimpan di dokumen laptop

Mezia Kemala Sari: Pastinya saya akan memastikan diri saya telah ‘termaafkan’ oleh orang-orang yang sengaja atau tidak telah saya lukai hatinya oleh karena kesalahan. 24 jam waktu yang cukup untuk kembali menggayung ibadah2 saya yang dulunya tak terperhatikan. Tak ada urusan dunia yang akan saya sentuh sedikitpun. Karena saya akan berbahagia,, bertemu dengan Sang Pencipta…..(Itu dari Saya)

Supri Yanto: perbanyak istighfar…. khusu’ kan hati dan fikiran… dengan menghamba diri….. atas kesombongan dan kepandiran kita…padahal kita tercipta dari tanah yang busuk……kita berharap dapat menjadi kelompok orang yang diridloi Allah SWT.

M Harirama Kedatun Keagungan: Kunci Hidup ini salah satu ada dalam HADIST QUDSYI,: MAN AROFA NAFSAHU FAQOD AROFA ROBBAHU, / Barang SIAPA Mengenal DIRINYA,maka DIA akan Mengenal TUHANNYA………….Untuk Mengenal DIRI kita Metode nya sudah lengkap dalam AL QUR”AN n Hadist…..bersegeralah Mengenal diri sendiri………

Putri Pubian: saya akan mohon ampun dan berserah diri.karena saya merasa “belum” termasuk ahli ibadah.  saya akan tetap tawakkal dan bertobat kepada allah.dan saya ingin di akhir hidup saya ingin membuat orang lain bahagia dan merasa di hargai..dan memohon maaf atas segala khilaf dan salah saya

Rovy Biru: istghfar dan pasrah.

Ahmad Iskandar: Saya akan selalu mensyukuri rahmat & nikmat yg telah diberikan kepada saya & keluarga serta bertaubat mohon ampun atas segala dosa2 saya krn hidup n mati sudah digariskan bagi semua manusia,& meninggalkan dunia dlm keadaan iman kpd Allah SWT……amin

Gurita Sahzou Satu: Yang utama banyak berdzikir-tasbih, minta maaf Ummi-Abi, kerabat dan orang yang ada disekitar kita. Banyak membaca al-quran. Karena orang yang menyibukkan diri membaca alquran, sampai ia lupa berdoa. Maka hal yang orang lain minta, akan dilimpahkan dulu pada kita sebelum kepada orang yang berdoa. Subhanallah.

Sri Mei: Melakukan amalan shalih,mewariskan semua harta benda dan ilmu dg menyelesaikan satu buku biografi saya sendiri.dengan hal tsb,sy merasa tetap hidup dan dekat di tengah org2 tcinta meski saya tlh tiada.

Erpin Leader: Setiap kita adalah penulis sejarah (perjalanan hidup). Dan sejarah yang tercipta adalah bagian dari jejak-jejak mimpi kita. Buku biografi adalah kumpulan dari kisah panjang tentang perjalanan hidup. Yang melelahkan dan mungkin pula mebahagiakan.

Jika aku tahu bahwa sisa umurku tinggal 24 jam, maka sebagai pebelajar penulis biografi. Selain perbanyak istighfar dan intropeksi diri. Akan kutulis pula sepenggal kisah yang paling inspirati. Yang bisa dikenang oleh sesama. Karena tulisan itulah, yang akan jadi bukti sejarah, bahwa di akhir nafasku, aku ingin berbagi pada sesama.

Aku ingin sahabatku belajar dari tulisanku, bagaimana aku menjalani hidup ini dengan semangat cinta. Hidup yang akan kupersembahkan untuk mereka.

Sukses yaa…

Lesstari Chen: Saya akan melakukan hal yg dapat membuat orang disekitar ku tersenyum, dgn sisa waktu 24 jam itu sangat berarti buat sisa hidup ku. aku tdk akan pasrah dgn sisa hidup ku aku ingin membuat semua org disekitar ku tdk sedih atas kepergianku aku meskipun diri ku tdk ada aku ingin mereka melukiskan lesung pipit mereka dan ttp tersenyum keep smile dan aku akan beritahu kepada mereka secepat apapun seseorg meninggalkan dunia ini dan kembali kepada yang menciptakan kt jgn pernah pasrah terus berjuang lakukan yg terbaik buat tuhan,diri mu dan mereka…:)

Sammy Handoko: ?….dalam sisa waktuku yang 24 jam,,,akan aku sampaikan pesan zaman bahwa waktu adalah peng-ilham bagi kita untuk membuat jejak. Sidik jari setiap dari kita selalu ada dalam putaran jarum jam. Hitam putih hidup adalah keseimbangan. Ingatlah ini sahabat, selalu ada hikmah di setiap peristiwa!

Berpijarlah dengan segala hitam putih di hidupmu. Setialah berjalan bersisian dengan-NYA, niscaya engkau akan terselamatkan pada detik terakhirmu menanam jejak, menyampaikan pesan. Karena kita terlahir sebagai pembawa pesan-pesan kehidupan bagi satu dengan yang lainya.

Bila 24 jam waktu yang tersisa untukku, ku pastikan tak ada yang sia-sia, karena Tuhan selalu ada, Ia selalu berbicara di segala rupa untuk aku jadikan sebagai media pembelajar. Pun ketika detika terakhirku tiba, aku pun masih belajar, dan terus belajar padanya tentang ini: Bahwa dengan segala kuasa-NYA, atas kun fa ya kun-NYA,,,takdir Tuhan di ujung usaha manusia.

Papat Patimah: hari ini adalah hari koe, hari aku hidup, tdk ada hari kemarin yg tlah pergi bersama suka-dukanya, tdk ada hari esok yg ga mungkin datang berangan, tumbuhkan semangat hidup dalam jiwa, curahkan konsentrasi, perhatian, prestasi terbaik, kerja keras, kesungguhan, shalat dgn khusyuk, bca Quran dgn renungan, zikir dgn penuh kehadiran hati, berprilaku yg baik, ridho dgn smua anugrah, jaga mental, jaga fisik, berbagi, bersedekah,….walaupun “aku hanya hidup hari ini ”

Widyawati Zaelani: prtma2 tobat,sikap klise tp hrus dlakukan mnurut sy, minta maaf kpd org2 yg msh mgkn bs sy mintai maaf, kmudian byar hutang smampu sy..he..

brikutnya mengamanahkn org trprcya utk mnyampaikn psan kpd s’seorang dimasa lalu sy,org trsbut yg sdh mnjdi inspirasi sy slma ini utk mnjdi pnulis wlaupn krya sy blum trbit,org tsb yg tlah mngjarkan sy tntg air mata & kasih sayang ktika rmaja..& org itu msh sy tunggu smpai saat ini kdatnganny ?& bila buku sy trbit suatu wlopun sy sdh tidk ada, sy ingin ucapn trima ksh dbuku itu diisi namanya….sy ingin mnyampaikan pesan bahwa sy masih mencintainy,& mnjadiknny sumber kompensasi trbaik dlm hidup sy slama brtahun2 walopun mnyakitkan ketika benar2 mnjalaninya…;

Dian Rinda: ?menulis buku yg brmnfaat, yg menceritakan apa sj yg kta lakukan dlm wktu sesingkat itu, sdngkan bnyk yg kta ingin lakukan, buku yg akan mengungkap semua bahwa kita bknlah mlk kta sndiri, dan meskipun sukses adlh hak kta tpi Tuhan yg men…entukan, dan jka kita tau bhwa waktu kta hnya 24 jam lg maka kita msh pnya hak brharap akan indahnya msa dpn kta di kehidupan hakiki. Walau kta mati stlh mnls bku itu, tpi kta sdh meninggalkan kebaikan dlm bku itu dn bku itu akan ttp hidup. Sekian!Lihat SelengkapnyaBottom of FormTop of Form

Nesa Ozzora: Jika waktu ku menghela nafas di dunia ini hanya tinggal 24 jam lagi yang pertama aku akan diam, merenung dan berdoa kepada Tuhan YME agar mengampu i segala dosa ku. Jika waktu ku melangkah di dunia ini hanya 24 jam lagi aku akan melangka…h memberikan dan melakukan yang terbaik untuk orang yang tersayang dan orang yang membutuhkan. namun itu semua hanya berandai – andai, karena sejati nya tiada yang tahu kapan tiba waktu nya, hanya ALLAH yang tahu dan kita sebagai manusia harus melaksanakan perintah – Nya selagi masih hidup

Diana Jelita: Melakukan hal yg trbaik untk diriku dn pasrah,tawakal….sesungguhx sencana itu tlah dintentukan Sang pencipta Sekian dn trimakasih

Minten Cerewet: · melunasi hutang..meminta maaf atas kesalahan yg telah ku perbuat..n tetap menyebut nama ALLAH..LA ILAH HA ILALOH..TIADA TUHAN SELAIN ALLAH.. MUHAMAD UTUSAN ALLAH..

Faqierul Ilmi: If an egg is broken by an outside force…A LIFE ENDS.

If an egg breaks from within…LIFE BEGINS. GREAT THINGS ALWAYS BEGIN FROM WITHIN. … semoga di matikan dalam keadaan husnul khatimah, aamiin

Lelu Apristia: Saya akan melakukan rutinitas seperti biasa. Istirahat dan makan secukupnya, bekerja dg totalitas dan professionalisme, bersastra dg segenap rasa, mencinta dan dicinta sbgaimana adanya, berdoa dg rasa percaya pada-Nya dan mengakhiri hari di tempat tidur lagi sambil berpikir “Apa benar sisa hidup saya 24 jam?”

Sang Biograf Makasih semua. He..he..he…pada dasarnya hidup kita cuma 24 jam kan? Kemarin sudah berlalu, masa depan masih misteri. Jadi hiduplah sekarang, bahagialah sekarang, dan sukseslah sekarang. Itu semua hanya soal rasa. Bukankah harta benda, nama besar dan jabatan itu adalah alat untuk merasa kesuksesan dan kebahagiaan hidup. Today is the matter.


 
Emha: “Kacamata Gus Dur yang Baru itu Duit Rakyat” PDF Print E-mail

Oleh: Zulfikar Fuad

Rona kerinduan tercermin dalam wajah lebih dari sepuluh ribu umat Islam di kawasan PT. Gula Putih Mataram (GPM), Seputihmataram, Lampung Tengah ketika Emha Ainun Nadjib berusaha berdialog dengan mereka, Sabtu malam (13/11). Siraman rohani Cak Nun – panggilan kondang Emha – membuat mereka tak kuasa menahan kangen, apalagi diiringi shalawatan Cak Nun dengan irama musik religius Kiai Kanjengnya.

Sifatnya yang merakyat masih tak berubah dalam sosok cendekiawan muslim yang juga budayawan itu. Setiap pertanyaan dijawabnya dengan ramah dan menyejukkan meski terkadang menyerempet isu sensitif bernuansa politik. Sesekali ia memeluk pria yang dipanggilnya naik panggung. Ia juga menolak disanjung seperti artis.

“Saya bukan artis seperti Novia Kolopaking,” celoteh Cak Nun, menyindir istrinya yang sedang hamil tua itu.

Dialog yang berlangsung spontan dan tanpa direncanakan pihak panitia itu sempat menyinggung persoalan keutuhan bangsa, korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), kepemimpinan Presiden Abdurahman Wahid, serta pengadilan mantan Presiden Soeharto.

Tanya jawab selama setengah jam itu berlangsung penuh kekeluargaan. Suasana berubah menjadi “memanas” ketika Cak Nun — yang selama ini dikenal vocal menuntut pengadilan Pak harto – dipaksa Zainal Arifin, warga Housing II GPM berbicara tentang Pak Harto.

“Katanya Cak Nun vocal tentang Soeharto, kok malam ini diam saja?,” Tanya Zainal.

Kiay Mbeling yang ditanya tersenyum. Cak Nun seperti merasa terdesak dan menjawab bahwa dirinya memang sengaja tidak menyinggung persoalan hukum Pak Harto karena tidak berada pada acara yang tepat. Cak Nun hadir di GPM untuk memberi siraman rohani umat muslim di sana yang sedang merayakan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

“Karena sudah ditanya. Ya saya akan jawab,” tutur Cak Nun mengawali dialog yang mulai menyinggung isu diluar konteks acara itu. Cak Nun mengatakan ia tetap bersikeras agar Pak Harto diadili. Namun, tambah Cak Nun, pengadilan mantan Presiden RI kedua itu berbenturan dengan keterbatasan peraturan hukum.

“Pak Harto tidak bisa dihukum karena kesalahan policy  (kebijakan. red) dan moral. Yang bisa dihukum adalah kesalahannya secara yuridis dan harus ada fakta secara administratif,” ujar Emha.

Ia berpendapat, Pak Harto harus diadili dalam tiga bentuk pengadilan, yaitu pengadilan hukum dengan berharap ketegasan jaksa agung dan kapolri, pengadilan moral, dan pengadilan ilmiah. Tetapi, sayangnya Cak Nun tak merinci apa yang dia maksud dengan pengadilan moral dan ilmiah itu.

Meski ia tetap bersikeras mendesak agar Pak Harto diadili, Cak Nun meminta masyarakat tidak dendam apalagi benci pada Pak Harto, sebab sesame ciptaan Tuhan. “Saya cinta Pak Harto karena dia sama dengan kita, ciptaan Tuhan. Karena itu, janganlah mengadili Pak Harto karena unsur dendam dan benci,” kata Cak Nun.

Tentang kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid, dia menilai masyarakt harus tetap melakukan kritik yang kontruktif dan membangun. “Kita (rakyat. red) ini bos. Kaca mata Gus Dur yang baru itu duit rakyat. Jadi siapa yang tinggi,” celetuk Emha.

Ketika ditanya warga, mengapa Cak Nun tidak mencalonkan diri sebagai presiden dalam Sidang Umum MPR lalu, ia menjawab, “Kenapa harus jadi presiden? Banggalah jadi rakyat. Gus Dur jadi presiden bukan karena dia ingin tetapi karena Allah SWT yang menghendakinya,” jelas Cak Nun.


* Laporan jurnalistik ini pertama kali terbit di Tabloid KORIDOR edisi 34 Tahun 1 tanggal 18-24 November 1999.


 
Kesederhanaan Hidup Mahatma Gandhi PDF Print E-mail

alt

Oleh: Zulfikar Fuad

Mahatma Gandhi, tokoh dunia penakluk kekerasan asal India itu memang sudah wafat 30 Januari 1948 silam. Akan tetapi kehidupannya yang penuh nilai-nilai keluhuran budi manusia tetap relevan, terutama bagi kita bangsa Indonesia yang mengalami krisis multidimensi. Kehidupannya yang sederhana itu penuh keteladanan.

Bahwa bicara hidup sederhana tidak bisa melupakan Mahatma Gandhi bukanlah sikap yang berlebihan. Itu karena kita, bangsa Indonesia, dihadapi kenyataan langkanya sosok pemimpin di sekitar kita yang hidup dengan sederhana.

Kita mengalami krisis keteladanan dengan ketiadaan pemimpin yang hidup sederhana, apalagi berharap menemukan seseorang yang menyerupai Gandhi, sang mahatma (Jiwa Agung), yang  lebih dari sekadar sederhana, ia juga mengorbankan dirinya dengan hidup ikhlas penuh penderitaan demi keberhasilan perjuangan melawan penjajah Inggris.

Selain dikenal sebagai tokoh penganjur perdamaian dan anti kekerasan, dunia mengakuinya sebagai pemimpin yang menghindari apa yang disebutnya sebagai kesenangan sesaat terhadap harta, kekuasaan dan wanita. Sikapnya itu tampak dari kehidupan kesehariannya hingga akhir hayat.

Gelar “mahatma” diberikan rakyatnya karena sikap hidupnya yang terpuji. Hal itu terwujud dalam pikiran, ucapan dan tindakannya yang satu kata dengan perbuatan. Dengan tubuh kecil, bergigi ompong dan tubuh hanya dibalut selembar kain putih, Mahatma Gandhi atau yang oleh bangsa India dipanggil bapu (bapak kecil), pemimpin Kongres Nasional India terbesar di India itu mengejutkan banyak orang di berbagai belahan dunia karena sikapnya yang tidak berubah, yakni menolak tawaran menjadi Presiden India setelah berhasil memperjuangkan kemerdekaan India. Ia juga menolak fasilitas negara yang diberikan kepadanya selaku pemimpin kongres.

Stanley Wolpert, penulis biografi Gandhi dalam bukunya Gandhi’s Passion, The Life and Legacy of Mahatma Gandhi  mencatan tokoh pemimpin berpengaruh di dunia itu selalu menolak bepergian dengan mobil. Ia kerap memilih berjalan kaki atau menumpang kereta kelas tiga. Ia tidak sedikitpun tergoda dengan harta ketika mendapati diri berada di puncak kekuasaan tertinggi di India.

Untuk menderita dan mengalami kehidupan sebagaimana kehidupan para petani dan orang tanpa kasta atau termiskin di India, Gandhi meninggalkan nasib baiknya terlahir sebagai anak seorang pejabat India yang secara ekonomi tergolong kaya. Ia meninggalkan rumahnya yang nyaman demi menikmati kehidupannya yang selalu berpuasa dan berkorban untuk kepentingan rakyat, sekalipun dengan perbuatan itu ia dianggap sebagai orang gila.

“Saya percaya bahwa jika India, dan kemudia seluruh dunia, ingin mendapatkan kebebasan yang sebenarnya, maka…..Kita harus pergi dan tinggal di desa-desa, di gubug-gubug, bukan di Istana,” pesan Gandhi suatu hari kepada Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru. Gandhi berusaha meyakinkan Nehru tentang pentingnya hidup sederhana.

Bagi Gandhi, hidup sederhana adalah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan India dari kehancuran akibat perang dan perebutan kekuasaan. Gandhi menjalani hidup sederhana karena keyakinannya yang dalam akan manfaat hidup sederhana, baik bagi pribadi setiap orang, bagi sebuah keluarga, maupun bagi masyarakat bangsa di setiap negara di dunia. Pengaruh dari teladan hidup sederhana Gandhi telah mengakibatkan perubahan besar dalam pola hidup masyarakat India saat itu.


* Tulisan ini pernah terbit di Suratkabar ANALISIS edisi 19-31 Maret 2003.


 
Kenangan Sholat Jum’at Bersama Pak Harto PDF Print E-mail

alt

Oleh: Zulfikar Fuad

Pada Juli 1997, setahun sebelum lengser dari kursi Presiden, saya sempat bertemu Pak Harto. Kami sama-sama menjadi jamaah sholat Jum’at di Masjid Baiturrahman, yang berdiri megah di halaman samping Komplek Istana Negara. Pak Harto berada di saf pertama, ditemani para Menteri, Jaksa Agung dan Kepala Polri, persis di depan khotib yang menyampaikan tausiah di atas podium.

Saya di saf ketiga, kira-kira dua meter dari Pak Harto, terhalang anggota Paspampres yang mengisi penuh saf kedua. Meski sama-sama jamaah, bagaimanapun kami hanya rakyat biasa dan Pak Harto seorang pemimpin Negara, dan tentu saja ia mendapat perlakuan berbeda, dengan pengamanan ekstra ketat.

Sesekali saya mengamati Pak Harto. Ia lebih sering merundukkan kepala dengan mata kosong menatap ke karpet. Sepertinya khusuk mendengarkan wasiat khotib. Atau barangkali merenungi tugas-tugasnya sebaga kepala Negara sekaligus kepala pemerintahan yang kelak akan diminta pertanggungjawaban, oleh rakyat di dunia, dan oleh Allah SWT di akhirat.

Sosok Pak Harto baru tampak penuh di hadapan saya, ketika ia beranjak dari tempatnya sembahyang dan berdo’a, lalu meluruskan tegaknya, berjalan ke pintu depan sambil menyalami jamaah satu persatu.

Pak Harto berusaha selalu tersenyum di hadapan siapa saja. Termasuk kami, jamaah sholat Jum’at. Karismanya memancar, setiapkali senyumnya mengembang. Tapi guratan di wajah  sepertinya tidak dapat menutup isi hatinya, seolah mengisahkan keletihan seorang yang berkuasa selama 32 tahun atas negeri berpenduduk lebih dari 220 juta, mayoritas muslim, dengan potensi konflik yang tinggi, yang seringkali meletup-letup tanpa diduga waktu dan tempatnya. Negeri yang kaya raya sumber daya alam dengan penduduk yang sebagian besar hidup di bawah garis kemiskinan.

Keletihan itu kian tampak ketika Pak Harto berdiri limbung nyaris terjatuh, saat melangkah ke halaman masjid. Beruntung Jend. (Purn) Hendropriyono–ketika itu menjabat Sekretaris Pengendali Operasional Pembangunan (Sesdalopbang)–yang berada di sampingnya sigap memeluk Pak Harto. Pak Harto baru dapat berjalan nyaman setelah ajudan memberinya tongkat.

Setelah Jakarta meletus dengan kerusuhan dan huru-hara di mana-mana selama sepekan sejak 15 Mei 1998, diikuti dengan pidato Pak Harto yang memutuskan mengundurkan diri sebagai Presiden pada 21 Mei berikutnya, ingatan saya kembali ke peristiwa di halaman masjid itu. Seakan-akan peristiwa itu menjadi pentunjuk kejatuhan Pak Harto dari singgasana kekuasaannya.

Sebagai jurnalis dan penulis biografi saya bersyukur sering mendapat kesempatan berhubungan baik dengan pejabat Negara, bahkan kerap berada dekat dalam kehidupan keseharian mereka. Kami mengamati dan belajar bagaimana mereka sampai pada puncak kekuasaan dan bagaimana mereka jatuh dengan teramat menyakitkan. Ada mantan menteri yang dikejar-kejar KPK, ada mantan gubernur yang dipenjara, dan ada mantan bupati yang hidup tidak tenang karena orang-orang selalu mencari kesalahan dan kekhilafannya di masa menjabat.

Setelah Pak Harto tidak lagi menjabat presiden, ia menjadi lelaki tua yang kesepian. Para pejabat yang dulu diangkat dan dibelanya banyak yang sudah tidak peduli dengannya. Bahkan ada yang berbalik memusuhinya, menyalahkan orde baru dan kepemimpinannya sebagai biang keterpurukan Indonesia. Orang-orang yang menikmati hidup di zaman orde baru tiba-tiba muncul sebagai pahlawan yang menuntut penguasa orde baru diproses hukum sebagai koruptor. Dan, Pak Harto, jenderal besar bintang lima yang dulu teramat disegani dan ditakuti itu kini hanya dipanggil sebagai Soeharto saja. Itulah ironi kekuasaan.

Belajar dari kejatuhan Pak Harto, marilah kita menghargai kebaikan, peran dan kontribusi para pemimpin sebelumnya secara proporsional dan mendudukkan kekurangan mereka sebagai pelajaran sejarah, pelajaran untuk kita semua: rakyat dan calon pemimpin berikutnya. Dan janganlah berlebihan mengharap perubahan kepada pemimpin baru, karena kemungkinan akan menuai kekecewaan yang mendalam.

Sikapi setiap pemimpin secara proporsional sesuai kemampuan dan kewenangannya. Pada hakikatnya, pemerintah hanyalah fasilitator dan dinamisator pembangunan, sedangkan keberhasilan pembangunan itu sendiri amat ditentukan juga oleh peran kita sendiri, sebagai rakyat, sebagai pelaku pembangunan. Wallahu a’lam bis sawab.


* Tulisan ini pernah terbit di Suratkabar Bandar Lampung News edisi 331 tanggal 17-23 Juli 2010.


 
Jurnalisme Internet dan Kita PDF Print E-mail

alt

Oleh: Zulfikar Fuad

Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah dua sisi mata uang. Relasi keduanya saling berkaitan, melengkapi dan interdependensi. Kemajuan ilmu pengetahuan dari pengembangan olah pikir manusia menghasilkan teknologi yang mempermudah manusia mengelola alam semesta untuk kepentingan dirinya dan makhluk hidup di sekelilingnya pada semua lini kehidupan. Sebaliknya, kemajuan teknologi mengilhami manusia untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan.

Dewasa ini, “demam teknologi” terjadi di berbagai belahan dunia dan merambah semua bidang profesi. Termasuk bidang jurnalistik atau profesi jurnalis. Bagi insan pers, peleburan jurnalisme dengan teknologi telah memperpanjang “perdebatan” tentang konsepsi ilmu jurnalistik. Pemahaman baru tentang jurnalisme diperlukan, terutama setelah media online mulai merebak dan membidani lahirnya apa yang penulis sebut sebagai jurnalisme internet.

Persoalan ini menarik dikemukakan pada Hari Pers Sedunia tahun ini yang jatuh pada 3 Mei. Hari Pers Sedunia tahun ini merupakan sebuah momentum bagi kita dalam mengakhiri milenium kedua untuk membuka lembaran baru dan melangkah melanglang buana pada abad informasi. Dalam konteks ini, sangat tepat kita mengilasbalikkan sejarah ilmu jurnalistik yang perkembangannya sejalan dengan kemajuan teknologi.

Bila kita merunut ke belakang, kemajuan teknologi komunikasi telah memaksa pemahaman kita terhadap ilmu jurnalistik ikut bergeser. Dahulu, tahun 60 sebelum Masehi, pada zaman Julius Caesar di Romawi masih berkuasa sebagai penasehat kerajaan, ketika media massa baru dikenal dalam lembaran kertas yang diedarkan bagi kalangan terbatas, kita diakrabkan dengan istilah acta diurna, surat kabar pertama yang muncul di Roma. Istilah itu sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti buku catatan tentang kegiatan yang dilakukan seseorang atau lembaga. Ketika itu istilah jurnalis (pencatat) sudah banyak digunakan untuk menyebut profesi wartawan.

Saat itu, jurnalistik belum dianggap sebagai sebuah cabang ilmu karena baru dikenal, itu pun oleh kalangan tertentu. Memasuki tahun 1900-an, meningkatnya intensitas kegiatan publikasi atau persuratkabaran mendorong peminat jurnalitik melakukan penelitian. Mereka mulai menelaah ilmu jurnalistik dan hubungannya dengan ilmu pengetahuan. Singkat kata, dari hasil kajian mendalam dan metodelogis itu mendorong para ilmuwan menyepakati jurnalistik dijadikan sebagai cabang ilmu pengetahuan.

Ilmu jurnalitik atau jurnalisme pada dekade berikutnya kian maju dengan pesat, meski tak sepopuler bidang ilmu pengetahuan lain, seperti: sosiologi, antropologi, ilmu bumi, fisika, kimia dan sebagainya.

Jurnalistik kemudian melaju kencang mengikuti tren abad informasi. Di hampir semua negara maju, media massa sudah menjadi kebutuhan pokok kedua, setelah makan dan minum. Selain karena kemajuan teknologi komunikasi, persoalan penerapannya dalam industri pers sehari-hari juga menghasilkan istilah-istilah baru yang “dikawinkan” dengan jurnalistik. Saat ini, istilah jurnalistik telah berkembang dalam bentuk yang terus menyesuaikan dengan temuan teknologi komunikasi terbaru.

Sebab itu, untuk mudah memahaminya, sejumlah pakar mengklasifikasi dalam dua bagian. Pertama, didasarkan pada sarana, jurnalistik terbagi menjadi dua: media cetak (surat kabar harian, tabloid, majalah, kantor berita) serta media elektronik (jurnalistik radio, televisi dan film). Kedua, didasarkan bidang kerja: ekonomi, olahraga, sastra, dan sebagainya.

Kata jurnalistik yang sebelumnya hanya  diartikan sebagai proses mengumpulkan, mengolah, menyiapkan dan menyebarkan berita melalui media massa dalam konteks persuratkabaran/media cetak, kemudian bergeser makna setelah ditemukannya teknologi radio dan televisi sebagai alat komunikasi. Kehadiran radio dan televisi menambah corak jurnalistik, apalagi penggunaan kedua alat itu sebagai media penyebarluasan berita kian akrab di masyarakat. Muncullah apa yang kemudian dikenal sebagai jurnalistik radio dan jurnalistik televisi.

Menyusul radio dan televisi, dunia kemudian dikejutkan dengan kehadiran “makhluk ajaib” bernama internet. Jaringan informasi global itu, tanpa diduga sebelumnya, mampu menghilangkan sekat pembatas antar-negara dan antar-desa. Informasi secara bebas, hilir mudik datang dan pergi dari perkantoran ke industri, dari benua ke lautan, dari desa ke negara lain, dan seterusnya.

Internet telah menjadikan kita sebagai masyarakat dunia yang hidupnya sangat bergantung dengan informasi, sebagai mesin kemajuan sekaligus sarat untuk ikut dalam kompetisi antar-negara dan bangsa. Inilah abad informasi. Internet telah membentuk kehidupan baru yang mengubah cara kita berpikir, berkomunikasi dan bekerja sebagai pertanda kemajuan peradaban manusia.

Kehadiran internet, seolah menyadarkan kita bahwa ternyata terdapat alam lain selain dunia nyata, yakni cyberspace (alam maya). Seperti di “dunia sebenarnya”, dalam alam maya juga terdapat kehidupan manusia yang terlihat jelas setelah tombol-tombol ditekan atau mouse diklik. Internet menyajikan nyaris semua informasi tentang manusia dan dunianya dan menghubungkan kita semua dengan sekali ketukan jari. Internet tiba-tiba membuat kita haus dan lapar informasi. Kebutuhan apapun dan bisnis apa saja terbentang luas dalam samudera internet.

Dalam dunia pers, kehadiran internet mewarnai ilmu jurnalistik. Dengan jangkauan jaringan tersebar luas di berbagai belahan dunia, internet memungkinkan kita mengakses informasi tanpa kendala geografis. Bahkan, penyebarluasan informasi ke seluruh dunia  dapat dilakukan serentak hanya dalam hitungan detik. Informasi yang dahulu dikendalikan penguasa kini bebas bekerliaran tanpa dapat disensor. Ini fenomena sejarah manusia.

Indonesia pun menyambut fenomena itu dengan munculnya berbagai portal berita seperti Detik.com, Astaga.com dan Satu.net. Mulai-mula dianggap hanya sebagai pelengkap dan sekarang menjadi media yang berpengaruh. Bahkan, karena pengaruhnya yang luar biasa, belakangan Detik.com dibeli oleh konglomerasi media Trans Corp dengan nilai yang menghebohkan, disebut-sebut seharga Rp. 500 miliar.

Ishadi S.K., mantan Dirjen Radio, TV dan Film Departemen Penerangan RI menilai internet yang tumbuh amat cepat telah mematahkan paradigma lama tentang komunikasi. Teori komunikasi klasik selama ini menunjukkan dua bentuk komunikasi: pertama, komunikasi interpersonal dan komunikasi antarpribadi atau komunikasi tatap muka; serta kedua, komunikasi massa menggunakan media cetak maupun elektronik (Prospek Bisnis Informasi di Indonesia: 1999).

Jurnalisme Internet

Jurnalisme internet, baik yang berdiri sendiri sebagai portal berita maupun yang terhubung dalam multimedia, tampaknya telah mendepak teori jurnalistik klasik tentang nilai berita.

Pertama, unsur kebaruan (aktualitas) sebagai nilai berita kian cepat bahkan boleh dikata “menembus” dimensi waktu. Syarat kebaruan batasnya menjadi buram, kalau tidak mau disebut hilang. Peristiwa penting yang terjadi di sebuah negara (betapapun terpencilnya negara itu) dapat diketahui dunia hanya dalam hitungan menit. Hampir tidak ada lagi kejadian penting yang tidak segera menyebar ke berbagai belahan dunia. Di sinilah kompetisi merebut hati publik dan pengiklan antarmedia massa cetak, radio, televisi dan internet terjadi. Segmentasi pun sudah tak memiliki batasannya karena penggunaan teknologi multimedia.

Kedua, unsur kedekatan (proximity) menjadi kabur. Tak ada lagi kejadian yang dianggap jauh oleh khalayak karena nilai kedekatan telah berubah menjadi kedekatan yang menyatu, kedekatan yang mengglobal (global proximity). Semua negara, etnis, bangsa dan bahasa berada dalam satu jaringan: internet. Ketika mengklik berita tentang kekerasan militer di Palestina, kita serasa berada di sana dan bahkan larut dalam suasana duka

Ketiga, berita menjadi lebih universal dengan informasi yang beragam. Fenomena universalitas ini sekaligus membawa gerbong panjang transformasi sosio-kultural di semua negara dan bangsa. Dampaknya, koridor nilai budaya menipis, bahkan melebur menjadi satu, multikultural.

Keempat, transparansi. Jurnalisme internet membuka jendela semua “ketertutupan” informasi yang dikendalikan penguasa. Pemberangusan kebebasan pers oleh penguasa “ditabrak” terjangan gelombang informasi yang membanjiri internet. L.S. Harms mengatakan arus berita telah berubah dari vertikal menjadi horisontal. Pers yang dulu amat bergantung penguasa, sekarang hidup berdasarkan pilihan publik.

Kelima, jurnalisme internet selain mengandung sisi positif juga mendatangkan kekhawatiran memakan korban massa jika menjauh dari nilai kemanusiaan, moral dan rambu hukum. Media online, sulit dikendalikan melalui seperangkat aturan hukum karena informasi bebas berseliweran tanpa dapat disensor. Sebuah portal berita di Indonesia yang menggunakan server Singapura misalnya, tidak mungkin dapat dicegah jika merugikan publik.

Dunia, khususnya Bangsa Indonesia, saat ini menghadapi tantangan yang tidak ringan dari dampak negatif arus informasi. Salahsatunya ancaman keruntuhan nilai moral, budaya dan agama akibat “kebebasan tak bertanggungjawab” dari penggunaan media internet yang merusak.

Pertanyaan terbesar yang belum terjawab adalah dengan pengaruh jurnalisme internet yang tak terkendali akankah sistem pers kita mampu menjadi penjaga gawang nilai moral, sosial dan budaya bangsa Indonesia? Wallahu a’lam.


* Tulisan ini dikutip dari Harian Lampung Post edisi Selasa, 23 Mei 2000 dengan penyesuaian pada isi agar sesuai konteks kekinian.


 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 Next > End >>

Page 7 of 8

Informasi & Konsultasi

Click here to send message!

Send Message






Events Calendar

June 2017
S M T W T F S
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 1

Facebook